check your heart

Hati itu mudah retak


Dulu, aku pernah berfikir kenapa orang-orang mudah sekali berubah, kadang menjadi pendiam kadang menjadi si riang kadang juga menjadi sunyi.
seiring berjalannya waktu, aku sadar itu semua karena hati, hatilah yang mempengaruhi semua hal dalam hidup. 
Kadang aku aneh, namun aku sadar itu nyata. 

Yah, memang begitulah hidup.
hidup memang memiliki banyak warna yang membingungkan, ada yang bisa menganggap kita ada, ada yang menanggap kita tak ada padahal kita ada 
tapi, belajarlah mengusai hati, karena orang yang hebat bukanlah dia yang menggenggam dunia, tapi iya yang bisa menguasai hatinya. 
Ingatlah, meskipun cobaan memang tak akan pernah berhenti, tapi berusahalah mengendalikan diri untuk tetap tegar,lapang dada,sabar dan ridho. 
Karena apapun ketetapanNya, itulah yang terbaik 

Pernah aku berbincang sedikit dengan pemulung sampah, di daerah sekitaran Bekasi.
aku melihatnya sangat bersemangat mengumpulkan sampah, padahal waktu itu, matahari saja belum menampakan sinarnya. 
Akhirnya kucoba memulai percakapan, ya meskipun aku harus memutar otak agar tak terlihat menganggu kerjanya. 
Dan akhirnya terjadilah percakapan itu hingga fajar menyingsing. 
Iya, ibu tsb sudah bermurmur setengah abad, mempunyai tanggungan 5 orang cucu, saat aku tanya anaknya ya hanya tersenyum sambil berkata "anak ibu, sudah bahagia nak. Ibu ga mau merepotkan lagi, sudah cukup dia masih mau anggap ibu ini ibunya, saya senang ko" tutur ibu mar(panggilan akrabnya) 
setelah beberapa hari, akupun dengan tekunnya sering bertemu atau hanya sekedar menyapa. 
Hingga akhirnya, sang ibu pun mengatakan hal yang sebenarnya, bahwa sang anak malu mengakuinya sebagai seorang ibu, gara-gara ibu hanya seorang pemulung. Padahal, anak ibu tsb sekarang seorang Pegawai Di perusahaan swasta Di daerah ibu kota sana. 
Aku, tentu saja geram. Kenapa? Sungguh sangat durhaka anak itu, membiarkan ibunya banting tulang hanya demi sebungkus nasi, dan dia sang anak makan dengan enaknya. 

Hampir aku terbawa emosi, tapi sang ibu, bu mar berkata lagi"nak, tahan amarah kamu itu. Ga baik, ibu ikhlas ko. Ga apa-apa ibu kayak gini, ibu senang, sedih mah pasti, tapi ibu selalu yakin gusti allah mah ga tidur, ga bakal biarin kita terus sedih" tuturnya lagi. Saat itu pula aku sadar..
ini bukanlah masalah memaafkan atau membenci, ini adalah masalah hati, bagaimana iya bisa atau tidak menerima semua takdirNya. 
Tentang bagaimana memgelola emosi, menguatkan hati yang rapuh. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Story of heart (sebuah kisah sederhana)

B.e.r.a.t

dunia dalam ramadhan