Story of heart (sebuah kisah sederhana)
Hidupku mungkin seperti drama-drama (sssr, stasiun tv) maksudku, terlalu banyak dramanya Hehe
Kamu tau, aku terlahir dari keluarga tang amat sangat sederhana.
Namun, aku punya mimpi yang lebih dari biasa.
Namun, seiring berjalannya waktu, akupun sadar tak semua yang kita inginkan itu tercapai.
Akan ada ombak, petir dan semua halangan yang mencoba membuat kita untuk berhenti mengejar mimpi.
-jatuh-
Dulu aku pernah bermimpi menjadi seorang dokter, saat SD aku tak pernah berfikir jauh tentang mimpi-mimpi yang hanya jadi bayang ini nantinya.
Saat umurku, 6 thn ibuku meninggal saat melahirkan adikku yang ke 4.
Saat umurku, 6 thn ibuku meninggal saat melahirkan adikku yang ke 4.
Meninggal pada sat malam hari, aku? Tak sempat untuk melihat nya terakhir kali.
sakit rasanya saat saat aku sedang membutuhkan masing sayang, semua pergi.
Ayahku? Sama ikut terpuruk juga dalam kesendirian.
Adik-adikku? Sama, kami semua dalam suasana hati yang sama.
Sedih hancur, bingung dan putus asa.
Ayahku? Sama ikut terpuruk juga dalam kesendirian.
Adik-adikku? Sama, kami semua dalam suasana hati yang sama.
Sedih hancur, bingung dan putus asa.
Aku tetap menjalani hari-hari ku, seperti biasa
Cobaan rintangan datang silih berganti,
Ayah ku, keluar dari pekerjaan tetapnya, mungkin orang menyebutnya perusahaan asing
Sejak saat itu, keluarga kami berada di titik paling 0.
Dulu, aku terbiasa makan junk food, sekarang jabatan kan makanan itu, untuk berharap esok masih makan pun, sangat sulit.
Akhirnya, aku berusaha menjadi anak dan ibu, bagi adik adikku, umurku saat itu, 10 tahun tapi aku harus bertindak bak seorang anak berumur 20 tahun.
Dimulai, memasak, mencuci, menyetrika, mengantar adik adik sekolah, ikut rapat orang tua, ambil report adik2 ku
Sedih? Sangat. Dimana seharusnya saat itu, adalah waktunya aku hanya tau bermain dan bermain
Tapi, takdir mendidikku agar lebih baik.
Aku, adikku diejek oleh teman-temanku saat aku mengambil report sendiri, serba sendiri mereka berkata aku tak punya orang tua,dll
Saat anak-anak yang lainnya istirahat dan mereka sibuk untuk jajan,aku sibuk mencari adik adikku untuk memberikan bekal.
Aku tak suka dikasihani, tapi aku tak suka juga dijatuhkan.
Aku, tak punya 1 orang temanpun.
Tidak ada, aku hanya sendiri dan sendiri.
Yang aku tau, aku harus cepat pulang ke rumah, mengurus adik-adikku itu saja.
Belajar belajar dan belajar tdk akan ada kata bermain.
Ayahku? Sejak meninggalnya ibu, ayah jadi arogan, cepat sekali marahnya, aku dan adik adik sering menjadi plamliasannaya.
Tapi, aku sadar aku tak boleh melawan, aku faham juga ayah sedang dalam masa-masa kehilangan, mungkin saat itu aku belum faham apa arti kehilangan yg sesungguhnya.
Aku harus terlihat kuat, demi adikku.
Mereka tak boleh melihatku lemah, agar mereka tetap bisa tersenyum melihat masa depannya.
-KEBANGKITAN AWAL-
Waktu itu, adalah hari kenaikan kelas 2.
Dulu aku suka sekali hari itu, tapi sejak ibu meninggal, aku kehilangan semangat.
Sebenarnya aku malas sekali hadir, tapi kalau tak hadir bagaimana aku bisa mengambil rapor ku? Ayah?? Jangan tanya, ayah tak pernah mau mengambilkannya, baik aku / pun adikku.
Dengan berat hati, aku ke sekolah.
Malas, itu kata kata yg sangat tepat mewakili hatiku,.
Saat yang lainnya bercengkrama dgn orang tuanya, aku lebih memilih diam dipojokkan melihat penampilan anak2 yang tampil di pentas.
Aku sebenarnya sangat malas sekali, tapi ini Semua harus kulakukan, ya mau tdk mau.
Dan tiba-tiba seseorang menarik lenganku, saat ku menoleh itu guruku.
Beliau adalah guru yang sangat pengertian padaku, beliau mengenalku sebelum ibu pergi meninggal. Bagiku, iya lebih dari sekedar guru.
Beliau bilang "biar, orang berkata apa. Tunjjukan aja, apa yang kamu bisa. Suatu saat, mereka akan pergi mencarimu, karena sadar. Itu suatu kelebihan yang tdk mereka bisa" sejak saat itu, aku selalu termotivasi kata-katanya. (Skip)
Ternyata, aku disuruh naik ke panggung. Jujur, aku sangat gerogi. Aku malu, bingung, campur aduk perasaanku saat itu.
Dan Aku pun akhirnya naik ke panggung, semua mata tertuju padaku seolah berbisik "eh, itukan anak yang ditinggal ibunya", "tau ga? Anak itu, broken home loh",. "Kasian ya dia, ga pernah diambilin raport sama orang tuanya"dan bla-bla-bla....
aku panas hati tapi, ah sudahlah jikapun aku membalasnya, toh ga ada gunanya.
Aku diam, diatas panggung dan aku baru sadar, saat ada sentuhan lembut dipucuk kerudungku, beliau berkata"selamat ya, kamu juara 1! Pertahankan prestasimu!!" Ucap kepala sekolah,.
WOW KEPALAKEPALA SEKOLAH?? mimpi apa aku semalam?? Histeris aku, tapi saat guru meminta orang tua untuk naik kepanggung, ayah tdk hadir, aku sedih?? Sangat.
Tapi, bagaimana lagi? Memang nasibku.
Aku pun lekas2 turun dari panggung.
1 jam, 2 jam, 3 jam kemudian.. selesai juga pembagian raport dan juara.
Saatnya pulaaang~~~
Sampai di rumah, aku lihat ayah sedang memakai selimut, aku yakin ayah sedang sakit.
Saat ku cari, adik-adikku, mereka sedang memasak nasi.
Aku buka sepatuku, pelan agar ayah tak bangun.
Namun, nasib nasib..
Ayah bangun, dan terpaku saat melihat aku membawa piala dan bingkisan.
Aku? Bingung harus berekspresi apa.
Dan aku baru sadar setelah ayah memelukku erat, dan berkata" kamu juara ka??? Ya allah, ayah jadi sehat. Ya allah, inikah jalanmu agar aku bisa kuat membesarkan anak-anakku?! Ya rabb, mulai hari ini, aku ikhlaskan semuanya padaMu. Ka, terimakasih sudah mempersembahkan yg terbaik. Ayah bangga" ucap ayah sambil menangis memelukku.
Adik2ku, juga ikut aku peluk, kami sekeluarga menangis bersama.
Dan ini semua baru awal, awal semuanya dimulai.
Tentang, aku..
Masa depanku..
Hidupku..
Matiku..
Semua akan kumulai

SubahanaAllah
BalasHapusSemua ini tak lepas dari sang khaliq, yg memberikan saya kekuatan
Hapussubhanallah, semangat terus yaaa
BalasHapusYa seniorku, terimakasih hehe
HapusKisah yang sedih, tapi menyimpan hikmah. Salt Mba. Semangat. Sukses selalu.
BalasHapusMasyaallah. Menginspirasi. Allah Yuftah Alaikum. Percaya saja, insyaallah Allah kasih yang terbaik buat kamu. Semangat ya
BalasHapus